Monday, January 13, 2014

FUNGSI PARAGRAF DALAM KARYA ILMIAH

FUNGSI PARAGRAF DALAM KARYA ILMIAH

Oleh 
Om Dompet


Pendahuluan
Bagi sebagian orang, embuat sebuah karya dalam bentuk tulisan merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena untuk menuangkan suatu ide, gagasan, isi pikiran melalui bahasa tulis tidak semudah melalui bahasa lisan. Menurut Sabarti Akhadiah, dkk, menuangkan buah pikiran secara teratur dan terorganisasi ke dalam sebuah tulisan sehingga pembaca dapat mengikuti dan memahami jalan pikiran seseorang, tidaklah mudah. Banyak orang yang fasih berbicara, namun kurang mampu menuangkan gagasannya dengan baik[1]
Hal tersebut mengindikasikan bahwa suatu hasil buah pikiran yang dituangkan secara tertulis memang bukan pekerjaan mudah, oleh karenanya untuk membuat sebuah karya tertulis yang merupakan buah pikiran seseorang membutuhkan ketrampilan yang tidak sedikit selain pengalaman dalam membuat ataupun menuangkan isi pikiran secara tertulis dalam bentuk tulisan dan karya tertulis. Membuat sebuah karya ilmiah tidak semudah membuat suatu karya yang berbentuk sastra. Ada banyak kriteria dalam komponen sebuah karya ilmiah yang perlu dipenuhi, seperti teknik-teknik penulisan, penggunaan bahasa yang baku dan benar, materi karya ilmiah yang objektif sesuai dengan fakta dan data yang ada, membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan banyak hal lain yang tentunya menjadi perhatian penting dalam sebuah penulisan suatu karya ilmiah. Karena itulah, mengerti dan memahami pola penulisan sebuah karya ilmiah merupakan hal pokok yang harus dilakukan oleh seorang penulis yang hendak membuat suatu karya ilmiah.
Penulisan sebuah karya ilmiah memerlukan banyak hal yang harus diketahui oleh seorang penulis yang akan membuat sebuah karya ilmiah. Dalam perencanaandiperlukan sebuah data yang akurat yang sesuai di lapangan dengan merujuk konsep dan teori-teori yang telah diakui. Pada proses penyusunannya, karya ilmiah memerlukan adanya sebuah fakta dan data yang telah didapat di lapangan pada proses observasi dan disesuaikan dengan kajian teori yang relevan dan mendukung proses pelaksanaan ada. Pada akhirnya, proses penulisan karya ilmiah dilakukan dan diselesaikan, tentunya tidak begitu saja suatu karya ilmiah yang dibuat tanpa didukung oleh sumber-sumber data yang valid dan hasil di lapangan sebagaimana fakta yang ditemukan.
Pentingnya mengerti dan memahami penyusunan dan penulisan suatu karya ilmiah menuntut kita untuk lebih jeli dan kritis dalam menulis dan membaca suatu karya ilmiah, sebagaimana dijelaskan di depan. Salah satu kaidah yang perlu diketahui dan dipahami dalam membuat suatu karya ilmiah adalah pola penggunaan dan penyusunan paragraf. Dalam sebuah karya ilmiah, penggunaan dan penyusunan suatu paragraf mempunyai beberapa kriteria yang baku dalam karya ilmiah.
Kadangkala tidak sedikit kita temukan dalam sebuah paragraf pada karya ilmiah yang terdapat di banyak media seperti internet bila dicermati masih banyak dan belum memenuhi kriteria sebuah paragraf dalam karya ilmiah. Hal inilah yang perlu dicermati, walaupun terlihat sepele namun dengan memperhatikan satu aspek yaitu paragraf akan memudahkan penulis dalam membuat dan menyusun serta menulis sebuah karya ilmiah yang harus diselesaikan.
Sebuah paragraf yang baik merupakan suatu satuan yang tersusun secara terperinci dan terpadu di mana pemaparan materi yang dituangkan dalam sebuah paragraf terdapat inti permasalahan yang dibicarakan. Keterkaitan antar kalimat dalam paragraf juga perlu diperhatikan sehingga penggunaan dan pemilihan bahasa dan kata maupun kalimat tidak sia-sia yang akhirnya tidak keluar atau melebar dari pokok permasalahan yang menjadi bahan pembicaraan pada suatu paragraf yang konsisten dan terpadu.
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yang perlu dibahas, antara lain: (a) Apa yang dimaksud dengan paragraf?; (b) Apa saja jenis paragraf yang perlu diketahui dalam kaitannya dengan penyusunan sebuah karya ilmiah?; (c) Apa saja karakteristik sebuah paragraf dalam karya ilmiah?; (d) Bagaimana kriteria paragraf yang baik?.
Adapun tujuan penulisan resume sederhana ini tentang “Fungsi Paragraf dalam Karya Ilmiah”, disusun dan ditulis untuk memenuhi salah satu pada mata kuliah “Bahasa Indonesia pada semester III STMIK AUB Surakarta”, yang mana hasil penyusunan dan penulisan makalah sebagai referensi tambahan pada proses perkuliahan. Ditulis dan disusunnya resume ini juga bertujuan untuk memberikan gambaran ringkas sebuah paragraf dalam tulisan ilmiah yang merupakan bagian dalam sebuah karya ilmiah, yang mana kaidah penyusunan paragraf sangat penting untuk memudahkan dan menyempurnakan sebuah karya ilmiah kaitannya dengan teknik-teknik penulisan karya ilmiah.

Pembahasan  
Pengertian Paragraf
Sebuah paragraf (dari bahasa Yunani paragraphos, "menulis di samping" atau "tertulis di samping") adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide. Awal paragraf ditandai dengan masuknya ke baris baru. Terkadang baris pertama dimasukkan; kadang-kadang dimasukkan tanpa memulai baris baru. Dalam beberapa hal awal paragraf telah ditandai oleh pilcrow (¶).
Sebuah paragraf biasanya terdiri dari pikiran, gagasan, atau ide pokok yang dibantu dengan kalimat pendukung. Paragraf non-fiksi biasanya dimulai dengan umum dan bergerak lebih spesifik sehingga dapat memunculkan argumen atau sudut pandang. Setiap paragraf berawal dari apa yang datang sebelumnya dan berhenti untuk dilanjutkan. Paragraf umumnya terdiri dari tiga hingga tujuh kalimat semuanya tergabung dalam pernyataan berparagraf tunggal. Dalam fiksi prosa, contohnya; tapi hal ini umum bila paragraf prosa terjadi di tengah atau di akhir. Sebuah paragraf dapat sependek satu kata atau berhalaman-halaman, dan dapat terdiri dari satu atau banyak kalimat. Ketika dialog dikutip dalam fiksi, paragraf baru digunakan setiap kali orang yang dikutip berganti.[2]
Paragraf merupakan kumpulan sebuah kalimat yang disusun secara runtut dan terperinci sehingga terbentuklah sebuah susunan yang dikenal dengan satu istilah yaitu paragraf. Pengertian yang berkaitan dengan paragraf sangat banyak, dijelaskan dalam kamus besar bahasa Indonesia tentang pengertian paragraf yaitu bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru.[3]
Apabila dipaparkan secara sistematis maka suatu karangan secara umum merupakan kumpulan dari bab per bab, dalam tiap bab tersebut terdapat beberapa paragraf yang disusun secara sistematis dan konsisten, pada paragraf terdapat kumpulan kalimat-kalimat sebagai pengembangan dari pemaparan satu buah paragraf, dan dalam kalimat tersebut terdapat kumpulan kata-kata yang membangun unsur sebuah kalimat yang efektif dan memenuhi kriteria dalam sebuah kalimat pada tulisan ilmiah. Paragraf juga dapat dikatakan karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf kita dapat membedakan di mana suatu ide mulai dan berakhir.
Dalam bukunya Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan memberikan definisi tentang paragraf yaitu; Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf ini terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama, atau kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.[4]
Dapat diartikan bahwa paragraf merupakan suatu hasil pemikiran yang mana dalam paragraf tersebut terdapat inti maupun pokok permasalahan yang menjadi satu hal yang perlu dijelaskan atau dipaparkan sehingga dapat sebuah paragraf terdapat beberapa kalimat yang membangun unsur paragraf. Kalimat-kalimat penjelas/pengiring bertujuan untuk menerangkan dan mengembangkan kalimat pokok yang menjadi fokus pembicaraan sehingga isi dalam paragraf tersebut dapat dipaparkan secara luas dan terpadu namun tidak keluar/keluar bahkan menyimpang dari pokok pembicaraan dalam paragraf tersebut.
Secara umum definisi paragraf dapat dijabarkan bahwa paragraf merupakan sekumpulan kalimat yang saling terkait satu kalimat dengan lainnya,  paragraf merupakan bagian dari suatu bab yang tersusun secara runtut dan terpadu, pada umumnya sebuah paragraf ditandai dengan penulisan pada baris baru dengan penulisan awal hurufnya mengarah ke dalam, dalam sebuah paragraf terdapat kalimat pembuka, kalimat inti, dan kalimat penutup. Adapun dalam sebuah penyusunan paragraf tidak dibenarkan membicarakan/membahas materi yang berseberangan dengan fikus materi yang dibicarakan dalam satu paragraf karena sebuah paragraf merupakan satu kesatuan utuh sebuah pemaparan permasalahan atau materi yang utuh dan terpadu.

Jenis-jenis Paragraf
Berdasarkan fungsinya, paragraf dapat dibedakan menjadi lima, yaitu:
a.      Eksposisi (Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi)
Contoh:
      Para pedagang daging sapi di pasar-pasar tradisional mengeluhkan dampak pemberitaan mengenai impor daging ilegal. Sebab, hampir seminggu terakhir mereka kehilangan pembeli sampai 70 persen. Sebaliknya, permintaan terhadap daging ayam dan telur kini melejit sehingga harganya meningkat.
b.       Argumentasi (Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat / kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti)
Contoh:
        Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga.

c.        Deskripsi (Berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.)
Contoh:
      Gadis itu menatap Doni dengan seksama. Hati Doni semakin gencar memuji gadis yang mempesona di hadapanya. Ya, karena memang gadis didepannya itu sangat cantik. Rambutnya hitam lurus hingga melewati garis pinggang. Matanya bersinar lembut dan begitu dalam, memberikan pijar mengesankan yang misterius. Ditambah kulitnya yang bersih, dagu lancip yang menawan,serta bibir berbelah, dia sungguh tampak sempurna.

d.       Persuasi (Karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.
Contoh:
        Dalam diri setiap bangsa Indonesia harus tertanam nilai cinta terhadap sesama manusia sebagai cerminan rasa kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, mengembangkan sikap tenggang rasa dan nilai-nilai kemanusiaan, mengembangkan sikap tolong-menolong dan saling mencintai. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat dipenuhi oleh suasana kemanusian dan saling mencintai.

e.        Narasi (Karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.)
Contoh:
         Jam istirahat. Roy tengah menulis sesuatu di buku agenda sambil menikmati bekal dari rumah. Sesekali kepalanya menengadah ke langit-langit perpustakaan, mengernyitakan kening,tersenyum dan kembali menulis. Asyik sekali,seakan diruang perpustakaan hanya ada dia.

Berdasarkan tujuannya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.      Paragraf pembuka
Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, dan bertugas menyiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan. Dalam karangan ilmiah, paragraf pembuka dapat berupa: (1) garis besar karangan dengan menonjolkan bagian yang dipandang penting; (2) pemaparan isi dan maksud judul karangan; (3) kutipan pendapat pakar pada bidang ilmu yang bersangkutan; (4) sitiran dari suatu pendapat; (5) pembatasan objek dan subjeknya; (6) pemaparan arti penting masalah yang akan dibicarakan; (7) gabungan dari beberapa cara di atas.
Contoh :
Jacques Cousteau lahir pada tanggal 11 Juni 1910 di St. Andre de Cubzac, Prancis. Sejak usia 4-5 tahun, ia sudah jatuh cinta pada air. Cousteau pandai berenang dan menyelam gara-gar waktu berusia 10 tahun dikirim kesekolah musim panas di Danau harvey, AS. Oarng tuanya ketika itu tinggal di sana. Seorang gurunya agak sentimaen kepadanya. Boetz sering menghukumnya membersihkan dasar danau yang penuh ranting dan pohon kering. Kalau tidak dibersihkan, anak-anak yang terjun bisa celaka. Inilah asal mulanya ia semakain pandai berenang dan menyelam.
b.      Paragraf penghubung
Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Secara fisik, paragraf ini lebih panjang dari pada paragraf pembuka. Ada beberapa pola penyusunan kalimat-kalimat yang menjadi sebuah paragraf isi yang dapat dijadikan pedoman, yaitu :
1.      Pola Urutan Waktu
Dalam pola urutan waktu, penulis mengungkapkan gagasan-gagasannya secara kronologis.
Contoh:
(a)   Secara Eksplisit
Maharani Puspita Sari tidak hanya berfikir. Ia lantas mendiskusikan dengan guru atau teman-temannya. Selanjutnya, ia pun mengadakan penelitian masalah kondisi tanah di sekitar jalan tol. Akhirnya, remaja putri itu tercatat sebagai peseta lomba Karya Ilmu Pengetahuan Remaja 1982. dan siswa kelas II IPA SMA Regina Pacis (Bogor) itu tercatat sebagai pemenang harapan.
(b)   Secara Implisit.
Ketukan tangan kecil di daun pintu sebuah rumah di pulau Mandangin, di malam buta pertengahan Februari yang lalu membangunkan penghuninya. Seorang bocah berseru dari luar memberi tahu, saat berangkat sudah tiba. Yang dipanggil bangkit dari tidurnya, berkemas, dan turun ke pantai. Si bocah yang di pulau itu disebut kacong, berlalu kerumah lain untuk membangunkan yang lain pula, dan beberapa waktu kemudian sebuah perahu dengan 18 awak meluncur ke tengah laut. Nelayan pulau Mandangin turun mencari ikan. Besuk siang mungkin merekakembali ke darat dengan tangkapan yang lumayan, tetapi boleh jadi pula ia pulang dengan hasil yang nihil. Malam itu adalah melam mencari nafkah. Hari itu janji batas hutang yang ditumpuk sampai ratusan ribu rupiah untuk setiap orang tengah ditunaikan.
2.      Pola Runtutan Tingkat
Dalam pola urutan tingkat, penulis mengungkapkan gagasan mulai dari tingkat terendah sampai dengan yang tertinggi, dari kecil sampai dengan yang besar, dan sebagainya.
Contoh :
        Meskipun tingkat pembangunan suatu desa berbeda dari satu desa ke desa lainnya, dari satu negara ke negara lainnya, akn tetapi ada suatu persamaan umum yang dapat diterima. Pertama, pembangunan diharapkan dapat memenuhi harapan semua penduduk … kedua, pembangunan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan pendidikan, dan pendapatan penduduk desa. Ketiga, dengan pembangunan desa diharapkan pendapatan penduduk dapat menjadi kekuatan penggerak utama di dalam berbagai bentuk yang positif, keempat, pembangunan desa diharapkan pula dapat menjamin keselamatan atau jaminan dimasa mendatang. Kelima, pembangunan desa diharapkan membuka kesempatn memajukan karir masing-masing warga desa.
3.      Pola Urutan Apresiatif
Mengungkapkan gagasannya berdasarkan, baik buruk, untung rugi, salah benar, berguna tidak berguna, dan sebagainya.
Contoh :
Pernyataan bahwa business adalah unsur dari peternakan sering ditentang oleh banyak orang. Mereka berpendapat bahwa dalam pertanian yang subsistence ataupun yang primitif beternak bukanlah suatu business tetapi, suatu cara hidup, suatu way of life. Pandangan ini bukan sering dikemukakan dengan tandas oleh banyak pejabat yang bertanggung jawab atasa produksi pertanian. Mungkin benar bahwa fungsi farming is way of life, sebab produksi dicampur aduk dengan konsumsi.,sebab usaha pertaniannya dipaterikan dengan kepuasan hidup dalam masyarakat taninya. Tetapi haruslah disadari pula pula selama tersangkut soal produksi, dan itulah business. Untuk menerangkan hal ini baiklah diteliti keadaan petani-peternak yang telah maju yang telah mengubah cara ‘primitif’ dengan cara ‘modern’. Petani-peternak terlibat dan makin lama makin terlibat dalam usaha jual dan beli. Menjual hasilnya yang berlebihan dan membeli alat-alat, serta bahan- bahan yang diperlukan untuk produksi. Bahkan dalam keadaan subsistence, petani yang maju tadi berpikir seperti pengusaha, sebagai businessmen, dan selalu bertindak secara itu.
4.      Pola Urutan Tempat
Dalam pola urutan tempat, penulis mengungkapkan gagasannya mulai dari suatu tempat ketempat lainnya, misalnya dari atas ke bawah, dari dalam ke luar, dari kiri ke kanan, dan sebagainya. Urutan demikian dapat dikombinasikan dengan urutan berdasarkan tingkat pentingnya suatu tempat, dari tempat yang terpenting ke tempat yang penting sampai tempat yang kurang penting.
Contoh :
       Sebelum perahu bertolak ke tengah laut, Suhardi disibukkan oleh tugas membenahi semua perlengkapan. Ketika sudah sampai tempat yang dituju, jaring telah ditebarkan, anak laki-laki sembilan tahun ini meloncat ke air bersama sepotong bambu sepanjang tiga meter sebagai pelampung. Dia mencebur ke air waktu malam hari sekali pun. Tugasnya saat ini adalah membetulkan jaring, atau menjaganya jangan tersangkut di dalam air. Untuk itu, dia mengapung di laut selama satu setengah atau dua jam. Dan kembali ke perahu berbarengan dengan naiknya jaring.
5.      Pola Urutan Klimaks
Pola urutan klimaks ini hampir sama dengan pola urutan tingkat. Hanya saja, dalam pola urutan klimaks ini terkandung adanya intensitas yang semakin menaik, sedangkan dalam pola urutan tingkat tidak begitu ditonjolkan jadi, dalam pola urutan klimaks, penulis mengungkapkan gagasannya dengan urutan yang setiap kali semakin meningkat intensitasnya, dan berakhir pada gagasan yang paling intens.
Contoh :
Dalam film terlihat seekor kera yang semula lincah akhirnya lumpuh, dan buta setelah dicekoki obat mencret Entro Vioform, 6 butir setiap hari selama 2 minggu. Hadirin menarik nafas. Tetapi suasana menekan perasaan justru tambah menjadi-jadi setelah film berakhir, dan lampu dinyalakan diruang Press Club.
6.      Pola Urutan Antikimaks
Pola urutan antiklimaks ini merupakan kebalikan dari pola urutan klimaks. Jadi, pola urutan antiklimaks ini berangkat dari suatu yang paling intens menuju ke yang intens sampai ke yang kurang intens. Dalam cerita rekaan (novel, cerpen, drama), klimaks dan antiklimaks, dan setelah sampai pada puncaknya menuju ke antiklimaksnya yang berupa penyelesaian.

7.      Pola Urutan Khusus Umum
Dalam pola urutan khusus ke umum ini, penulis mula-mula mengungkapkankan gagasan-gagasan suatu hal yang khusus, kemudian diungkapkan keumuman atau rampatan generalisasinya.
Contoh :
       Manusia adalah makhluk yang sedikit empedunya, dan panjang umurnya. Kuda juga sedikit empedunya. Demikian juga keledai, dan binatang-binatang lainnya yang serupa itu. Jadi, semua makhluk yang sedikit empedunya berumur panjang.
8.      Pola Urutan Sebab – Akibat
Dalam pola urutan ini, penulis mengungkapkan gagasannya bertolak dari suatu akibat atau efek terdekat dari pernyataan itu.
Contoh :
Kalau kemarau tengah berlangsung, sinar matahari terasa menyengat di Pulau Kambing. Selama empat bulan semua tumbuh-tumbuhan di pulau itu merangas. Angin meniup daun-daunnya yang kering hingga rontok ke bumi. Dari kejauhan yang kelihatan hanya rumah penduduk. Pada saat itu, orang berpunya yang mampu membuat bak mandi dari semen mungkin masih menyimpan persediaan air hujan. Beberapa penduduk datang ke sana sebagai pembeli. Lima ratus empat puluh tiga sumur yang ada disana mengeluarkan air yang asinnya persis seperti air laut. Air itu tak dapat diminum, ataupun digunakan untuk menanak nasi.

9.      Pola Urutan Tanya – Jawab
Dalam pola urutan tanya- jawab ini, penulis mula-mula mengemukakan gagasannya dalam bentuk pertanyaan, kemudian diikuti dengan jawaban pertanyaan itu.
Contoh :
Apa saja yang penting untuk diperhatikan oleh seorang pemimpin diskusi agar diskusinya dapat mencapai sasaran? Sesorang pemimpin diskusi hendaknya tidak mendominasi jalannya diskusi. Dia bertanggung jawab mengatur agar diskusi berjalan lancar menurut arah yang dikenhendakai pokok persoalan bersama, dan harus menstimulir anggota diskusi untuk berpartisipasi, serta menjuruskan kearah pemikiran. Dia pun harus mencegahadanya monopoli pembicaraan oleh seorang peserta saja, dan kalau ada salah paham atau perbedaan pendapat harus mengusahakan penyelesaiannya. Pada akhir diskusi, pemimpin diskusi harus membuat ringkasan, kesimpulan atau hasil diskusi.
c.       Paragraf penutup
Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk eksposisi) mengenai hal-hal yang dianggap penting.
Contoh alinea penutup yang berupa kesimpulan :
Media cetak tergolong tertua kehadirannya di Indonesia dibandingkan dengan jenis media lainya (radio, film, dan tv), seorang pembaca surat biasanya adalah pendengar radio,dan penonton tv. Dengan demikian, media cetak mempunyai peranan yang yang khas dalam penyampaian informasi. Bukan saja untuk menghidupkan tradisi menulis, dan minat baca masyarakat, tetapi ia metupakan bagian terpenting dalam penciptaan suasana kemasyarakatan yang dinamis, dan harmonis dari keseluruhan sistem media komunikasi modern, baik diaderah pedesaan, dan terlebih-lebih lagi di daerah perkotaan.

Contoh alinea penutup yang berupa ringkasan :
Beberapa hal yang dapat diringkaskan dari pengamatan di atas. Pertama, terdapat gejala rendahnya mutu murid SD di seluruh Indonesia,yaitu murid SD tidak hanya mampu mencapai 50 % standar pengetahuan yang diharapkan dapat dicapai oleh mereka. Kedua, daerah-daerah dengan mutu murid SD yang lebih tinggi daripada rata-rata nasional terletak di Indonesia bagian barat. Ketiga, ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang paling parah diderita oleh semua murid SD, sedang matematika mrupakan ilmu pengetahuan yang paling kaut mereka miliki. Keempat, rendahnya mutu murid SD terjadi dalam jumlah murid yang naik dengan deras.

Contoh alinea penutup yang berupa penekanan kembali hal-hal yang penting :
Harus diakui bahwa ketegasan di dalam menghadapi dan memecahkan secara tepat persoalan yang menyangkut Pancasila itu merupakan faktor penting yang memungkinkan terwujudnya stabilitas dan pembangunan nasional. Kejadian sejarah yang penuh ujian bagi Pancasila kiranya akan membawa bangsa ini kedalam tataran yang lebih dalam, dan lebih penting yaitu pengalaman, dan penghayatan Pancasila secara lebih mantap lagi. Sesudah stabilitas nasional dapat diwujudkan, dan di dalam dasar itu eksistensi bangsa dan negara ini mempunyai landasan yang sangat kuat, yaitu Pancasila maksud dalam sikap dan hati nurani manusia-manusia Indonesia.

Contoh alinea penutup yang berupa saran
Demikianlah peta bumi KMD. Jangkauan KMD sangat luas, meluputi sebagian besar rakya Indonesia. Pemerintah dalam hal ini hanya sekedar memberi dorongan pada pertumbuhan dan perkambangan pers nasional, khususnya yang terbit di daerah-daerah. Selanjutnya para penerbit pers itu sendirilah yang harus bekerja keras: menyusuri pantai,dan sungai-sungai, memasuki hutan-hutan, ngarai, dan daerah-daerah pegunungan untukmmencapai masyarakat pedesaan yang menjadi sasaran KMD.

Contoh alinea penutup yang berupa harapan :
Mudah-mudahan pedoman ini bermanfaat bagi usaha peningkatan sutau laporan hasil penelitian, dan peningkatan koefisienan, serta keefektifan pengelolaan penelitian bahasa, dan sastra. Dan untuk lebih dapat mewujudkan harapan ini, segera kritik, dan saran para pemakai buku ini akan dimanfaatkan.

Berdasarkan letak kalimat utamanya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.      Paragraf deduktif
Ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal paragraf dan dimulai dengan pernyataan umum yang disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.
Contoh :
Kemauannya sulit untuk diikuti. Dalam rapat sebelumnya, sudah diputuskan bahwa dana itu harus disimpan dulu. Para peserta sudah menyepakati hal itu. Akan tetapi, hari ini ia memaksa menggunakannya untuk membuka usaha baru.
b.      Paragraf induktif
Ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di akhir paragraf dan diawali dengan uraian atau penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.
Contoh :
Semua orang menyadari bahwa bahasa merupakan sarana pengembangan budaya. Tanpa bahasa, sendi-sendi kehidupan akan lemah. Komunikasi tidak lancer. Informasi tersendat-sendat. Memang bahasa merupakan alat komunikasi yang penting, efektif dan efisien.
c.       Paragraf campuran
Ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal dan akhir paragraf. Kalimat utama yang terletak diakhir merupakan kalimat yang bersifat penegasan kembali.
Contoh :
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat dilepaskan dari komunikasi. Kegiatan apa pun yang dilakukan manusia pasti menggunakan sarana komunikasi, baik sarana komunikasi yang sederhana maupun yang modern. Kebudayaan dan peradaban manusia tidak akan bisa maju seperti sekarang ini tanpa adanya sarana komunikasi.

Berdasarkan isinya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.      Paragraf deskripsi
Ditandai dengan kalimat utama yang tidak tercantum secara nyata dan tema paragraf tersirat dalam keseluruhan paragraf. Biasanya dipakai untuk melakukan sesuatu, hal, keadaan, situasi dalam cerita.
Contoh :
Dari balik tirai hujan sore hari, pohon-pohon kelapa di seberang lembah itu seperti perawan mandi basah, segar penuh gairah dan daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh hembusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang dan penuh pesona.
b.      Paragraf proses
Ditandai dengan tidak terdapatnya kalimat utama dan pikiran utamanya tersirat dalam kalimat-kalimat penjelas yang memaparkan urutan suatu kejadian atau proses, meliputi waktu, ruang, klimaks dan antiklimaks.
c.       Paragraf efektif
Adalah paragraf yang memenuhi ciri paragraf yang baik. Terdiri atas satu pikiran utama dan lebih dari satu pikiran penjelas. Tidak boleh ada kalimat sumbang, harus ada koherensi antar kalimat.

Kriteria Paragraf yang Baik
Untuk membuat sebuah paragraf yang baik dan benar menurut ketentuan dan kaidah-kaidah yang berlaku perlu diketahui tiga komponen yang disyaratkan sebagai sebuah paragraf yang baik dan benar. Syarat pembentukan paragraf dimaksud menurut Sabarti Akhadiah, et. al. terdapat tiga unsur yaitu kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan.[5]
a.      Kesatuan (Kohesi)
   Tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi paragraf ialah mengembangkan topik tersebut. Oleh sebab itu, dalam pengembangannya tidak boleh terdapat unsur- unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik. Paragraf dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topiknya. Semua kalimat terfokus pada topik dan mencegah masuknya hal-hal yang tidak relevan[6]
b.      Kepaduan (Koherensi)
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Urutan pikiran yang teratur, akan memperlihatkan kepaduan. Jadi, kepaduan/koherensi dititikberatkan pada hubungan antar kalimat dengan kalimat.[7] Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyusunan kalimat secara logis dan melalui ungkapan-ungkapan (kata-kata) pengait antar kalimat.[8] Urutan yang logis tersebut akan terlihat pada pola susunan antar kalimat yang terdapat pada paragraf tersebut.
Kepaduan dalam sebuah paragraf dibangun dengan memperhatikantiga hal, antara lain; pertama, unsur kebahasaan yang digambarkan antara lain dengan; (1) repetisi atau pengulangan kata kunci, kata ganti, (2) kata transisi atau ungkapan penghubung, (3) paralelisme, (4) pemerincian dan urutan isi paragraf. Kedua, perincian dapat diurutkan secara kronologis (menurut urutan waktu), secara logis (sebab–akibat , akibat-sebab, khusus-umum, umum-khusus), menurut urutan ruang (spasial), menurut proses, dan dapat juga dari sudut pandangan yang satu ke sudut pandangan yang lain
c.       Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaliknya suatu paragraf dikatakan tidak lengkap, jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.

Kesimpulan
Paragraf merupakan suatu bagian dari sebuah bab yang berisi kalimat-kalimat di mana antar kalimat tersebut memiliki satu unsur keteraturan, kesesuaian, dan kesamaan konsep, materi, dan permasalahan yang dibahas dalam paragraf tersebut. Tidak jarang pada sebuah penulisan suatu karya ilmiah dalam paragraf masih terdapat ketidaksesuaian antara kalimat satu dengan kalimat lainnya yang pada akhirnya hanya untuk menambah atau mencukupi materi secara kuantitatif (bukan dari kualitas isi karya ilmiah tersebut) sehingga pembahasan materi yang dipaparkan menjadi melebar bahkan tidak sinkron dengan materi pokok yang seharusnya menjadi pokok pemaparan.
Penggunaan paragraf setidaknya dapat mempermudah seorang penulis dalam membuat suatu karya ilmiah baik dalam bentuk sederhana maupun kompleks agar pembahasan suatu pokok permasalahan tidak keluar dari topik yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan adanya paragraf, penulis akan lebih mudah mengkategorikan pokok materi  yang akan menjadi pokok pembicaraan pada pemaparan yang dituangkan dalam bentuk paragraf tersebut.
Dalam sebuah paragraf setidaknya terdapat konsistensi pembahasan masalah (topik pembicaraan), dan keterkaitan antar paragraf secara terpadu dan efisien sehingga menghindari adanya materi yang inkonsistensi yang pada akhirnya akan membingungkan pembaca dalam memahami maksud tulisan dalam karya ilmiah tersebut.
Penyusunan dan penulisan suatu karya ilmiah dengan memperhatikan pola pengembangan paragraf akan lebih mudah jika hal ini diperhatikan dan terus dilakukan dalam hal apapun, dengan kata lain sesering mungkin seseorang menyusun dan menulis (tentunya dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku sehubungan dengan paragraf tersebut) suatu karya ilmiah maka akan lebih mudah seseorang tersebut mengerti dan memahami teknik-teknik dan pola penulisan yang baik dan benar sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya.
Saran
Dengan dipelajarinya definisi, bagian-bagian, karakteristik, dan kriteris sebuah paragraf yang ideal, maka diharapkan akan lebih memudahkan bagi penulis yang hendak menyusun dan menulis sebuah karya yang berbentuk ilmiah. Dapat diakui bahwa menyusun dan menulis suatu karya ilmiah tidak semudah menyusun dan menulis sebuah karya sastra. Menyusun sebuah karya ilmiah membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran yang tidak sedikit sehingga perlu dipahami agar pada saat pelaksanaannya tahap penyusunan sampai penulisan dan berakhir pada tahap pelaporan sebuah karya ilmiah, tidak akan terjadi kemacetan karena teknik-teknik penulisan yang belum dpahami atau masih bingung.

Daftar Pustaka

Sabarti Akhadiah, dkk. 1993. Materi Pokok Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.  hal. 171.

Sabarti Akhadiah, dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis. Jakarta: Erlangga. hal. 143
Tim Penyusun. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga. Jakarta

Wikipedia. Paragraf (online) http://id.wikipedia.org/wiki/Paragraf diakses 28 Nopember 2013 jam 22:04

Zainuddin, 1992. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia .Jakarta: Rhineka Cipta.




[1]Sabarti Akhadiah, dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis. Jakarta: Erlangga. hal. 143.
[2] Wikipedia. Paragraf (online) http://id.wikipedia.org/wiki/Paragraf diakses 28 Nopember 2013 jam 22:04            

[3] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia – edisi ketiga (Jakarta: 2007), h. 828.   

[4] Sabarti Arkadiah, dkk.1988. Op cit, hal.144
[5] Sabarti Arkadiah, dkk.1988. Op cit, hal.144
[6] Sabarti Arkadiah, dkk.1988. Op cit, hal.148

[7] Sabarti Akhadiah, dkk. 1993. Materi Pokok Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.  hal. 171.

[8] Zainuddin, 1992. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia .Jakarta: Rhineka Cipta. hal. 46.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan memberi komentar yang positif dan membangun. Terima kasih!