[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Berkah Gula-Gula Salju

09:00
[Lomba Fiksi Fantasi 2012]Berkah Gula-Gula Salju

Keywords: Pasar malam, pohon pisang, gula-gula, salju, jelantah.

Bulan Haji kembali datang. Banyak manusia-manusia yang mengorbankan apa-apa yang telah dimilikinya. Uang dan hewanlah yang kebanyakan lebih ikhlas mereka sumbangkan untuk sekedar membawa nama. Kita tanya Pak Haji Mahmud yang bekerja sebagai PNS. Ia pergi berhaji bersama sang isteri. Meski rambutnya sudah berwarna dua, ia sangat semangat untuk mengunjungi tanah Arab. Lihat saja waktu keberangkatannya. Layaknya pasar malam, para tetangga berbondong-bondong mengantar Pak Mahmud sekalian ke batas kota. Alangkah senang hati Pak Mahmud. Bukan karena hendak pergi berhaji, namun karena ia telah menjadi selebritis sejak setahun yang lalu, saat ia sudah mengumumkan kepada warga nomor registrasi untuk pergi berhaji. Setelah pulang dari tanah Arab, ia berbangga hati karena namanya bertambah huruf “H” di depannya. Bahkan setiap mendapat undangan, jika namanya tidak memakai embel-embel Haji, ia jarang sekali untuk menghadirinya.
Kita tengok kandang sapi di belakang Pak Mahmud. Kadang itu kosong tanpa penghuni. Konon di sana tinggal seekor anak sapi yang sangat lucu. Kulitnya putih dan bersih. Konon ia ditemukan Pak Mahmud saat malam hari, pada waktu Pak Mahmud sholat tahajud. Tiba-tiba ia mendengar suara gaduh di luar rumah. Lalu Pak Mahmud ke luar rumahnya.
“Hei, siapa di sana?” agak merinding
Assalamualaikum
“Hei, sapi kecil. Sedang apa kau di sana?” Pak Mahmud menghampiri seekor anak sapi yang termenung di dekat pohon pisang di sebelah rumahnya.
“Kenapa bapak tidak menjawab salam saya” tanya sapi itu.
“Karena saya belum tahu, kamu muslim atau musang?”
“Saya musafir. Apakah bapak bersedia menolong saya? jawab sapi itu.
“Apa yang bisa saya bantu?”
“Saya sangat lapar”
“Sejak kapan sapi tidak doyan daun pisang?”
“Sejak mencuri itu dilarang”
“Hmmmmm, kelihatannya kamu sapi yang baik”
“Dan sepertinya bapak penolong yang tidak berbasa-basi”
Akhirnya Pak Mahmud menampung anak sapi yang masih kecil itu. Dibuatkannya kandang sapi yang sederhana. Setiap hari sapi itu diberi makan dan minum secukupnya layaknya seekor sapi. Sapi itu sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Pak Mahmud. Isteri Pak Mahmud yang bernama Ibu Siti juga sangat menyukai anak sapi yang lucu itu.
“Hei sapi, apakah kau mempunyai nama?”
“Sudilah kiranya Bu Siti memberiku nama”
“Tapi aku tak pandai memberi nama”
“Berdoalah untuk saya”
“Kamu sapi yang membawa berkah menurut saya”
“Bukan saya yang meminta”
“Apakah kamu mau kuberi nama Berkah?”
“Jika Bu Siti ikhlas, apapun aku hanya terima”
***
Akhirnya Berkah menjadi anggota keluarga Pak Mahmud. Sejak kehadiran Berkah di rumah, keluarga Pak Mahmud menjadi sejahtera. Saat Pak Mahmud dalam kesusahan, Berkah selalu membantu dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Pernah pada suatu ketika Pak Mahmud tidak mempunyai uang untuk membeli beras. Lalu ia bercerita pada Berkah.
“Kenapa bapak kelihatan murung?” tanya Berkah
“Saya bingung, tidak mempunyai uang sepeserpun”
“Apa yang bisa saya bantu”
“Apa yang bisa kau perbuat selain di dalam kandang?”
“Bagaimana aku bisa membantu bapak kalau tidak keluar?” akhirnya Pak Mahmud mengeluarkan Berkah dari kandang.
“Naiklah ke punggung saya Pak”
“Apa kamu kuat? tubuh kamu kecil”
“Tapi tubuh bapak lebih kecil”
“Baiklah”
Setelah Pak Mahmud naik, Berkah langsung berlari dengan cepat. Bahkan Pak Mahmud tidak tersadar kalau sekarang sudah berada di negeri China.
“Untuk apa kita ke sini Berkah?”
“Lihatlah salju yang bertebaran tanpa guna itu pak”
“Itu hanya salju”
“Ambilah segenggam untuk bekal ke rumah!”
Pak Mahmud hanya menurut karena tak ada pilihan lain. Setelah mengambil segenggam salju, dengan sekejab mereka sudah sampai di rumah kembali. Berkah langsung menyuruh Ibu Siti untuk menyiapkan bahan untuk membuat sesuatu.
“Kita hendak membuat apa?”
“Tidak sesulit menanak nasi bu”
“Apa yang perlu disiapkan?”
“Hanya gula dan sedikit jelantah”
“Saya tidak mempunyai jelantah”
“Terang saja bu, karena jelantah hanya dipakai orang-orang yang melarat”
“Saya tidak kaya”
“Tapi Ibu hidup bagai orang kaya”
“Baiklah, apakah ada ganti selain jelantah?”
“Kita akan membuat gula-gula salju”
“Makanan apa itu?”
“Berarti saya berhasil membuat sesuatu yang baru”
“Bagaimana? apakah bisa selain jelantah?”
“Kita bukan hidup di kota”
“Tetangga saya pelit-pelit”
“Mungkin ibu juga tidak pemurah. Hanya pikiran ibu saja”
Akhirnya Ibu Siti yang beranggapan salah. Jangankan jelantah, beraspun akan dikasih jika memang Bu Siti dan Pak Mahmud orang yang serupa dengan tetangga-tetangganya yang baik hati. Berkah membuat  makanan gula-gula salju. Bentuknya bulat-bulat putih dan rasanya manis. Berkah berniat untuk menjualnya ke pasar malam.
“Pak Mahmud yang membawa nampannya ya”
“Saya malu”
“Kenapa pak?”
“Masa saya harus berjualan makanan”
“Tapi bukankah bapak yang ingin makan? Ibu Siti yang menjajakannya”
“Saya juga malu”
“Kalau kalian doyan gula-gula salju ini, kita batalkan untuk berjualan”
“Masalahnya kami bukan pemakan makanan barat”
“Cobalah untuk berusaha dan berkorban”
Pak Mahmud akhirnya menjinjing nampan yang berisi gula-gula yang sudah jadi tadi. Ibu Siti mengikutinya di belakang. Sesampainya di pasar malam, alangkah terkejutnya Pak Mahmud dan Bu Siti. Makanan yang mereka jajakkan langsung laku keras dan habis dalam waktu yang cepat. Kini Pak Mahmud dan Ibu Siti telah mempunyai uang untuk membeli beras dan bahan makanan yang mereka inginkan.
Sejak dibantu Berkah, kehidupan suami isteri ini menjadi lebih baik. Mereka hidup berkecukupan dan sudah tidak menjadi penjual gula-gula salju di pasar malam. Mereka telah mempunyai toko makanan yang sangat menjanjikan keuntungan. Namun ketika sifat manusia yang tidak jauh dari goda., Pak Mahmud dan Ibu Siti menjadi lupa dengan apa yang ia peroleh. Pak Mahmud dan Ibu Siti lupa memberi makan Berkah dan hanya sibuk mengurusi harta yang mereka peroleh setiap hari.
***
            Pada suatu ketika saat ada pelanggan berkunjung di toko Pak Mahmud.
            “Pak Mahmud belum haji ya?”
            “Hehehehe, saya belum punya biaya”
            “Ah, bapak bisa saja. Toko bapak kan laris dan maju”
            “Yah, namanya juga kebutuhan, pasti setiap saat selalu kurang”
            “Bapak tidak mempunyai anak?”
            “Semua ada di perantauan, jarang pulang dan jarang kasih kabar”
            “Oya, dengar-dengar bapak punya sapi?”
            “Iya, namanya  Berkah”
            “Apakah bapak mau naik haji tahun ini?”
            “Sepertinya belum”
            “Sayang sekali bapak, karena nama bapak akan lebih terkenal dengan sebutan haji”
            “Begitu ya?”  
            “Benar pak, para tetangga akan menyegani bapak”
            “Ide yang bagus juga”
            “Apakah saya bisa membantu bapak?”
            “Caranya?”
            “Apakah bapak bersedia menjual sapinya yang di belakang”
            “Apakah bisa terjual mahal”
            “Cukup untuk pergi ke Arab”
            “Boleh-boleh. Aku bersedia”
            Pak Mahmud akhirnya menjual Berkah kepada pelanggannya. Dan mendapat uang untuk pergi ke tanah Arab. Tidak tahu apa sebutannya. Naik Haji atau naik gaji?. Benar saja, Pak Mahmud dan Ibu Siti pergi naik haji dengan uang dari hasil penjualan Berkah. Niat yang kurang tulus dari suami isteri ini membuahkan petaka yang tak mereka duga. Toko kebanggaannya terlahap si jago merah. Ia mendapati tokonya rata dengan tanah setelah pulang dari Arab.
            “Bu, kenapa harta kita lenyap”
            “Coba kita tidak pergi haji”
            “Iya, coba kita tidak jadi pergi. Pasti ikut terlalap api”
            “Berarti kita harus bersyukur atau bagaimana?”
            “Aku belum membaca di buku”
            “Apalagi saya pak”
***
            Sebulan setelah musibah itu. Pak Haji Mahmud menjadi orang yang semula melarat kembali. Ia bersama isterinya kebingungan karena persediaan uang dan makanan sudah menipis. Lalu mereka teringat Berkah.
            “Bu, ayo kita cari Berkah”
            “Di mana pak?’
            “Saya juga tidak tahu”
            “Apa bapak menyesal menjual Berkah?”
            “Sama seperti yang Ibu rasa”
            “Aku sangat menyesal dengan yang bapak lakukan”
            “Kita harus mencarinya”
            “Untuk apa?”
            “Kita butuh bantuannya”
            “Aku malu pak”
            “Malu kenapa?”
            “Kita sudah menyia-nyiakan dia”
            “Kita akan bawa kembali ke rumah ini”
            “Apa dia mau?”
            “Ya kita coba saja”
Pak Mahmud dan Ibu Siti mencari Berkah kemana-mana. Hingga akhirnya Pak Mahmud dan Ibu Siti teringat dengan pasar malam yang sering mereka pakai berjualan gula-gula salju. Di sana mereka bertemu dengan Berkah.
            “Berkah, mari pulang bersama kami”
            “Maaf Pak Haji, saya sekarang sudah mempunyai kadang yang baru”
            “Maafkan kami telah menjualmu”
            “Kita impas pak, saling memaafkan”
            “Saya sekarang melarat Berkah”
            “Bukan alasan untuk membawaku kembali, selain menyuruhku ke China lagi”
            “Lalu apakah kamu tidak bersedia membantu kami lagi, seperti waktu itu?”
            “Bukan tidak mau, tapi sekarang adalah musim gugur. Bagaimana bisa kita membuat gula-gula salju”
            “Tapi kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Berkah”
            “Saya pun demikian, kalau Pak Haji sanggup membeli saya, mungkin lain ceritanya”
            “Bukankah kamu sudah menggap keluarga kami”
            “Itu dulu waktu Pak Haji menganggapku sebagai keluarga. Tapi setelah bapak menjual saya, bukahkah saya sudah tidak diinginkan”
            “Tapi kami menyesal, maafkan kami”
            “Saya bukan oranh yang mahal maaf, saya maafkan Pak Haji, tapi saya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Pak Haji”
            “Lalu kita harus bagaimana?”
            “Berusahalah dengan gigih. Bantuan orang lain jadikanlah pelajaran untuk ke depan. Namun jika kita selalu berharap bantuan, selamanya Pak Haji akan terkurung dalam ketidakberdayaan. Karena cobaan akan terus menempa dalam hidup.”
            Pal Mahmud dan Ibu Siti bergegas pulang degan tangan kosong. Kini mereka berfikir sangat keras dengan kata-kata yang terlontar dari seekor sapi yang mereka sia-siakan dulu. Lalu dengan menyadari kesalahan, mereka mencoba untuk membuat gula-gula tanpa salju. Namun mereka ganti dengan sebongkah es yang mereka beli di pasar. Dengan berbagai resep yang diberikan Berkah, Pak Mahmud dan Ibu Siti berhasil membuat gula-gula salju yang sama persis dengan buatan Berkah. Mereka berjualan di pasar malam di mana mereka biasa berjualan dulu. Dan akhirnya mempunyai toko yang ramai pengunjung. Berbagai bahan makanan mereka sediakan untuk dijual, namun tetap dengan gula-gula salju yang mereka banggakan untuk mengingat selalu jasa Berkah. Bahkan tokonya mereka beri nama Toko “Berkah Gula-Gula Salju”
            “Selamat siang” seorang pembeli datang ke toko Pak Mahmud.
            “Silahkan, mau beli apa?”
            “Saya mau beli gula-gula salju” kata pembeli yang pakaiannya serba putih.
            “Ohya, berapa banyak pak?”
            “Satu saja”
            “Kok cuma satu”
            “Iya Pak Haji, karena saya punya banyak di China”
            “Ohya, ini pak tidak usah membayar’
            “Kenapa pak?”
            “Tidak apa-apa. Bolehkan saya tahu namanya”
            “Nama saya Berkah” laki-laki itu berjabat tangan dengan tersenyum lalu pergi dengan sekejab. Pak Mahmud dan Ibu Siti terkulai lemas dan bersujud syukur bersama-sama.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

No comments

Silahkan memberi komentar yang positif dan membangun. Terima kasih!