Sunday, January 15, 2012

Evaluasi Dalam Olahraga

1.      Obyek dan Subyek Evaluasi
Instrumen evaluasi hendaknya terhindar dari pengaruh-pengaruh subyektifitas pribadi dari si evaluator dalam menetapkan hasilnya. Dalam menekan pengaruh subyektifitas yang tidak bisa dihindari hendaknya evaluasi dilakukan mengacu kepada pedoman tertama menyangkut masalah kontinuitas dan komprehensif.
       Evaluasi harus dilakukan secara kontinu (terus-menerus). Dengan evaluasi yang berkali-kali dilakukan maka evaluator akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang  keadaan Audience yang dinilai. Evaluasi yang diadakan secara on the spot dan hanya satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan hasil yang obyektif tentang keadaan audience yang di evaluasi. Faktor kebetulan akan sangat mengganggu hasilnya.
Untuk memperoleh informasi lebih banyak tentang kesahihan dan keterandalan mengenai kelompok yang mewakili kelas, tes harus dilaksanakan dengan hati-hati, serta mengikuti petunjuk pelaksanaan tes dan pemberian skor. Subyek yang digunakan dalam pembuatan rangkaian tes harus merupakan wakil dari kelompok untuk siapa tes tersebut dibuat.

2.      Alat-alat Evaluasi
Menurut Pudjiono (1989), ada beberapa syarat tentang alat evaluasi yang baik, yang digunakan dalam pendidikan jasmani:
a)    Harus dapat menunjukkan dengan jelas apa yang akan dievaluasi,
b)   Hasil evaluasi harus representatif dalam menggambarkan keadaan mahasiswa,
c)    Menggunakan alat ukur atau tes yang memenuhi syarat validitas (kesahihan), reliabilitas (keterandalan) dan obyektifitas,
d)   Hasil pengukuran karakteristik yang akan dievaluasi  diolah  secermat-cermatnya,
e)    Berdasarkan pada suatu kriteria atau norma tertentu

3.      Validitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa Validitas diartikan sebagai sifat benar, menurut bukti yang ada, logika berfikir, atau kekuatan hokum. Menurut Diknas bahwa validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya. Sedangkan menurut Wiki pedia Indonesia diterjemahkan , kesahihan, kebenaran yang diperkuat oleh bukti atau data. Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
       Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Dengan demikian kata valid sering diartikan dengan tepat, benar, sahih, absah, sehingga kata valid dapat diartikan ketepatan, kebenaran, kesahihan, atau keabsahan. Menurut Anas Sujiono apabila kata valid dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur maka tes dikatakan valid adalah apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara sahih, atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan kata lain tes dapat dikatakan telah memiliki Validitas apabila tes tersebut dengan secara tepat, benar, sahih atau absah telah dapat mengungkap atau mengukur apa yang seharus diungkap atau diukur lewat tes tersebut. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.

4.      Reliabilitas
Instrumen dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi manakala instrumen tersebut dapta menghasilkan hasil pengukuran yang ajeg. Keajegan/ketetapn disini tidak diartikan selalu sama tetapi mengikuti perubahan secara ajeg. Jika keadaan seseorang si upik berada lebih rendah dibandingkan orang lain misalnya si Badu, maka jika dilakukan pengukuran ulang hasilnya si upik juga berada lebih rendah terhadap si badu. Tinggi rendahnya reliabilitas ini dapat di hitung dengan uji reliabilitias dan dinyatakan dengan koefisien reliabilitas.
Tes dikatakan reliabel jika pengukuran menggunakan tes tersebut  diperoleh hasil yang tetap. Kirkendal, Gruber dan Johnson (1980) menjelaskan bahwa reliabilitas adalah tingkat ketetapan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Lebih lanjut, reliabilitas mempunyai pengertian bahwa suatu  tes dapat diandalkan untuk mengumpulkan data. Dapat diandalkan berarti tes tersebut baik, sehingga dapat menghasilkan data yang benar sesuai dengan kenyataan.
Panjang  tes  mempunyai pengaruh  terhadap  reliabilitas. Yang dimaksud  panjang tes adalah jumlah pengetahuan, kemampuan atau keterampilan yang harus diukur, selain itu juga lama waktu  pelaksanaan.  Semakin  panjang  tes ada  kecenderungan semakin reliabel.

5.      Penyusunan Tes
Kriteria tes keterampilan olahraga yang baik adalah:
a.       Tes keterampilan harus mengukur kemampuan yang penting.
b.      Bentuk tes keterampilan dan teknik yang dilakukan harus mendekati atau sama dengan situasi permainan yang sesungguhnya.
c.       Tes keterampilan harus mendorong bentuk permainan yang baik.
d.      Tes keterampilan harus hanya melibatkan satu orang saja.
e.       Tes keterampilan harus dapat membedakana tingkat kemampuan.
f.       Tes keterampilan harus menunjang penskoran yang baik.
g.      Tes keterampilan harus dapat dinilai sebagian dengan menggunakan statistik.
h.      Tes keterampilan harus memberikan cukup percobaan.
i.        Tes keterampilan harus memberikan makna untuk interpretasi penampilan.
j.        Variabel-variabel yang tidak ada hubungannya dengan tes dibatasi seminim mungkin.
k.      Tes yang digunakan harus memenuhi prinsip-prinsip validitas, reliabilitas, dan obyektifitas.
Langkah-langkah Pembuatan Tes Keterampilan Olahraga.
a.       Tentukan Tujuan Dibuatnya suatu Tes
b.      Identifikasi Kemampuan yang Akan diukur.
c.       Memilih butir tes gerak.
d.      Fasilitas dan Peralatan.
e.       Laksanakan Satu Studi Percobaan dan Revisi Butir Tes.
f.       Pilih Subyek yang Akan digunakan.
g.      Tentukan Kesahihan Butir-butir Tes.
h.      Tentukan Keterandalan Butir Tes.
i.        Menentukan Norma yang Dipakai.
j.        Membuat Panduan Tes.
6.      Menganalisa Hasil Tes
Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan menjadi berarti apabila dilah dan dianalisa. Pemilihan metode analisa data yang tepat menjadi salah satu factor yang penting dalam proses pengambilan kesimpulan. Karena data yang diperoleh dari hasil penelitian ini berupa angka – angka maka metode analisis data yang dipakai dalam pengolahan data adalah metode analisis data statistik, sesuai pendapat Sutrino Hadi (1987:221), bahwa cara – cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan data dengan menganalisa data penelitian yang berupa angka-angka adalah dengan statistik.
Metode analisis data statistic akan dapat memberikan efisiensi dan efektifitas kerja, karena dapat membuat data menjadi lebih ringkas. Sedangkan teknik yang dipakai untuk memperoleh data penelitian adalah statistic deskripsi dengan metode analisis deskriptif persentase. Hasil pengolahan data yang akan dihitung adalah hasil nilai rata-rata persentase siswa yang mengikuti tes kesegaran jasmani ini.

7.      Menskor dan Menilai
Pengertian dari skor seringkali dicampuradukkan dengan pengertian nilai. Pengertian dari skor sendiri adalah ”hasil pekerjaan menskor dengan menjumlahkan angka- angka bagi setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa” (Arikunto, 2003: 235). Sedangkan Nilai adalah ”angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu, yakni acuan normal dan acuan standar” (Arikunto, 2003: 235).
Prosedur penskoran sebuah tes ditentukan dalam tahap perencanaan dan berbeda- beda berdasarkan jenis butir tes dan kemampuan siswa (Bistok Sirait, 1989:12). Pada dasarnya prosedur penskoran dengan jawaban atas butir soal tes pemecahan masalah (Problem Solving) dan untuk jawaban jenis soal menambahkan jawaban (essay) sebaiknya dilakukan oleh guru ahli (Guru yang membuat tes) sedangkan jawaban untuk butir tes memilih jawaban, dapat dilakukan oleh siapa saja dengan cara membandingkan jawaban siswa dengan sebuah kunci, atau oleh sebuah mesin penskor.
Apabila ditinjau dari skala pengukuran, skor dapat dibedakan menjadi dua yaitu skor yang berskala diskret dan kontinum.Skor berskala diskret adalah skor nominal, sedangkan yang berskala kontinum adalah oridinal, interval, dan rasio.
1. Skor berskala Nominal    
Skor yang berskala diskret adalah skor yang bersifat kategorial. Yang termasuk dalam skor diskrit adalah skala nominal. Skala nominal merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori, atau kelompok dari suatu subjek. Misalnya jenis kelamin, jenis kelamin peserta didik hanya dapat dibedakan menjadi dua yaitu peserta didik yang berjenis kelamin laki-laki (diberi skor 1, misalnya) dan perempuan (diberi skor 2, misalnya). Angka 1 dan 2 berfungsi sebagai label kategori semata tanpa nilai intrinsik dan tidak memiliki arti apa-apa. Dengan kata lain skor 1 dan 2 dalam hal ini hanya sebagai cara untuk mengelompokkan subjek ke dalam kelompok yang berbeda atau hanya untuk menghitung berapa banyak jumlah di setiap kategori.
Skala nominal memiliki ciri-ciri: 1) setiap data hanya diwakili oleh satu kategori saja. Individu yang termasuk dalam kelompok yang berjenis kelamin laki-laki tidak dapat masuk dalam kelompok yang berjenis kelamin perempuan. 2) setiap data dianggap setara, baik kelompok yang berjenis kelamin laki-laki maupun yang berjenis kelamin perempuan memiliki derajat yang setara. 
2. Skor berskala Ordinal     
Skala ordinal tidak hanya mengkategorikan variabel ke dalam kelompok tetapi juga melakukan ranking terhadap kategori.

8.      Mengolah Nilai
Proses penilaian adalah suatu prroses membandingkan skor yang diperoleh tiap siswa dengan acuan yang dipakai penilaian aturan patokan atau penilaian aturan normal  (PAN atau PAP), yang hasilnya berbentuk nilai dengan skala 0 – 10 atau A – E. dalam proses tersebut dapat dilihat bahwa penskoran atau scoring adalah pemberian angka-angka terhadap prestasi seseorang sesudah melaksanakan suatu tugas tertentu. Setelah selesai pengukuran yang salah satu alatnya biasa disebut tes, barulah dilakukan perbandingan hasil pengukuran yang berbentuk biji/ skor dengan acuan yang dipakai yang dihasilkan nilai tersebut kita kenal dengan pemberian nilai atau granding.
Dalam suatu tes dengan banyak soal 150, dan dengan ketentuan satu jawaban benar = 1 dan satu jawaban salah= 0, maka bila si Ani hanya dapat menjawab secara benar sebanyak 75, dia akan memperoleh skor 75. Skor setinggi 75 ini baru memiliki makna bila dibandingkan dengan suatu acuan.
Dalam pelaksanaan sehari-hari scoring dan granding disatukan atau tidak mengenal pemisahan ; pemberian biji/skor sekaligus berarti pemberian nilai. Sebagai hasilnya ialah bahwa penilaian tersebut tidak comparable dan penafsiran terhadap nilai yang diberikan dapat berbeda-beda. Untuk dapat melakukan evaluasi yang lebih memadai maka kedua kegiatan tersebut harus dipisahkan artinya; granding baru dapat dilaksanakan setelah skoring selesai, sehingga nilai tiap siswa dapat dibandingkan, penafsiran terhadap nilai sama, sifat terbuka dapat terpenuhi, obyektivitas lebih terjamin.

9.      Mencari Nilai Akhir
Perlu ditentukan dan diberitahukan kepada siswa. Sistem penilaian yang sesuai dengan maksud dan tujuan yang telah disebutkan di atas adalah sistem penilaian relatif, yaitu sistem yang digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang lain dalam kelasnya.
Nilai akhir sering juga dikenal dengan istilah nilai final adalah, nilai baik berupa angka atau huruf yang melambangkan tingkat keberhasilan peserta didik setelah mereka mengikuti program pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu, dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Merupakan pemberian dan penentuan pendapat pendidik terhadap peserta didiknya, terutama mengenai perkembangan, kemajuan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh peserta didik yang berada dibawah asuhannya, setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
Penilaian yang diberikan oleh pendidik dalam bentuk tes-tes formatif sebenarnya dimaksudkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan untuk mengetahui sampai dimana tingkat pencapaian peserta didik terhadap tujuan instruksional yang telah dirumuskan dalam setiapsatuan pelajaran. Adapun tes sumatif bertujuan untuk menilai prestasi peserta didik terhadap penguasaan bahan pelajaran yang telah diberikan kepada mereka selama jangka waktu tertentu. Akan tetapi oleh karena tes sumatif itu pada umumnya tidak sering dilakukan, maka untuk dapat menjaga kesinambunganpenilaian dan hasil penilaian yang dipandang lebih mantap bagi setiap peserta didik, maka penentuan nilai akhir pada umumnya dilaksanakan dengan jalan menggabungkan nilai-nilai hasil tes formatif dengan nilai hasil tes sumatif.
10.  Evaluasi Program Pengajaran
Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.
Khusus terkait dengan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:
1.      Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.
2.      mengetahui tingkat keberhasilan PBM
3.      menentukan tindak lanjut hasil penilaian
4.      memberikan pertanggung jawaban (accountability)
Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas, evaluasi yang dilakukan juga memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah fungsi:
1. Selektif
2. Diagnostik
3. Penempatan
4. Pengukur keberhasilan
Selain keempat fungsi di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-fungsi lain dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:
1. Remedial
2. Umpan balik
3. Memotivasi dan membimbing anak
4. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan
5. Pengembangan ilmu
Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :
1.      Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen
2.      Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll
3.      Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM
Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah.
1. Bagi  Siswa
Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan
2. Bagi Guru
a.       mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan
b.      ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.
c.       ketepatan metode yang digunakan
3.Bagi Sekolah
a.       hasil belajar cermin kualitas sekolah
b.      membuat program sekolah
c.       pemenuhan standar
Macam-macam evaluasi
1.      Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan
2.      Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan
3.      Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat

2 comments:

  1. Om bikin resensi tentang blog ini ya nti q posting di WarnaPutih-inc...Membesarkan Ide bareng..

    ReplyDelete

Silahkan memberi komentar yang positif dan membangun. Terima kasih!